Ramadhan; Saatnya Pemimpin Bertaubat
Oleh: Fatkur Rohman, ST, MT
Ketua DPD PKS Kota Surabaya
Kurun waktu tiga tahun terakhir ini, kata sebagian orang, negeri indonesia ”identik” dengan bencana. Karena itu tak terlalu berlebihan jika dijuluki sebagai ”negeri bencana”. Bencana alam –baik yang terjadi di darat, laut maupun udara - sepertinya tak pernah berhenti dari kehidupan masyarakat Indonesia. Setelah di timpa Tsunami yang maha dashyat di Aceh pada akhir 2004 lalu, memasuki tahun baru 2006 Bangsa Indonesia, tepatnya di Kabupaten Jember, ditimpa bencana banjir bandang dan tanah longsor yang cukup dashyat.
Menjelang sholat subuh, disaat sebagian besar masyarakat sedang terlelap tidur, banjir bandang ini terjadi. Ratusan rumah penduduk hancur lebur, ratusan orang lebih meninggal dunia, ratusan mengalami luka-luka baik ringan maupun berat dan bahkan ada ribuan penduduk yang kemudian menjadi pengungsi. Menurut catatan Satkorlak Jember jumlah orang yang meninggal mencapai 90 orang. Akan tetapi menurut versi penduduk, masih ada sekitar ratusan orang yang terpendam lumpur alias belum ditemukan jasadnya.
Empat hari setelah bencana di Jember, muncul bencana tanah longsor di Banjarnegara Jawa Tengah. Bencana longsor ini juga mengakibatkan sekitar 100-an penduduk meninggal dunia, ratusan orang mengalami luka-luka dan ratusan ribu penduduk menjadi pengungsi. Nasib saudara kita di Banjarnegara juga tak jauh berbeda dengan saudara kita di Jember. Para penduduk tidak hanya kehilangan sanak saudara yang dicintainya, akan tetapi harta benda mereka juga ludes di “makan” bencana. Kehidupan mereka saat ini terlunta-lunta menjadi pengungsi.
Belum hilang air mata dan penderitaan warga di Aceh, Jember, dan Banjarnegara, kini bencana alam kembali menimpa Indonesia, yakni berupa gempa bumi tektonik di Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Tengah. Gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala richter ini terjadi 27 Mei yang lalu, di pagi hari, sekitar pukul 5.50. Akibat gempa super dahsyat ini, ribuan rumah warga dan gedung-gedung luluh lantah, rata dengan tanah. Gempa ini juga mengakibatkan korban meninggal sebanyak 5.000 jiwa lebih dan ribuan orang mengalami luka berat dan ringan. Dan ribuan warga lainnya hidup bagaikan pengungsi. Belum lagi gempa-gempa yang terjadi di indonesia bagian Timur seperti NTB dan Papua.
Ada juga bencana lain yang tak kalah dahsyatnya, yakni bencana kebakaran hutan, yang sebagian besar adalah karena ulah tangan manusia Indonesia sendiri. Pembalakan liar dan illegal terjadi di mana-mana. Kebakaran hutanpun tak terkendali. Hampir ratusan ribu hektar hutan hangus terbakar. Kabut asap pun akhirnya tidak saja menjadi masalah nasional. Tapi juga masalah regional. Karena kebakaran hutan tersebut berdampak ke beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Akibat kebakaran hutan ini, selain kerugian ekologis lingkungan yang begitu besar juga berdampak pada kerugian finasial. Asset dan potensi negara hilang tak berbekas. Bahkan pemerintah Indonesia haurs nomboki secara finansial baik untuk domestik maupun kawasan regional Asean. Selain itu juga, bencana lumpur panas Lapindo yang menenggelamkan tiga desa di sidoarjo, sampai detik ini pun belum bisa diselesaikan. Kerugiannya ditaksir mencapai angka triliun rupiah. Semua itu menambah kerusakan lingkungan hidup manusia yang begitu dahsyat.
Memasuki tahun 2007, Indonesia ditimpa kecelakaan pesawat terbang Adam Air yang Jatuh di daerah Majine, mengilangkan dan menewaskan ratusan orang. Kemudian disusul berbagai kasus kecelakaan trasportasi baik di darat maupun di laut secara silih berganti.
Di saat kehidupan ekonomi semakin sulit dan belum lagi ditambah dengan munculnya berbagai bencana seperti disebutkan diatas, maka lengkapkah sudah penderitaan bangsa dan rakyat kita. Apalagi sebagian besar dari mereka berada di daerah pedesaan yang tingkat sosial-ekonominya sangat rendah atau masuk dalam katagori daerah miskin. “Sudah jatuh tertimpa tangga”, demikian kata pepatah untuk menggambarkan kemalangan dan penderitaan beruntun yang mereka alami.
Taubat Nasional
Di tengah bencana alam yang silih berganti yang terus menimpa bangsa ini, sudah saatnya kita dan lebih khusus lagi para pemimpin negeri ini untuk berintrospeksi diri. Para pemimpin negeri ini perlu digugah mata hatinya untuk melihat masyarakat Indonesia yang saat ini sedang di landa bencana yang begitu dahsyat. Karena sebagian besar bencana dan kerusakan alam yang menimpa Indonesia adalah karena ulah tangan manusia yang begitu serakah dalam mengelola alam. Ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan negara ini dan itu adalah tanggung jawab para pemimpin negeri ini.
Fenomena bencana di negara kita tercinta ini sejalan dengan apa yang difirmankan Allah SWt dalam salah ayatnya:”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut di sebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS: Ar Rum;41)”. Seluruh pemimpin negeri ini sudah waktunya untuk membaca dan memahami betul ayat Allah ini dan kemudian melakukan interospeksi yang berujung kepada perbaikan secara total, baik perbaikan pada diri mereka sendiri maupun pada sistem yang sedang mereka jalankan maupun sistem yang akan mereka ciptakan.
Di bulan ramadhan inilah saat yang paling tepat dan “pas” bagi para pemimpin dan masyarakat negeri ini untuk melakukan evaluasi diri dalam bentuk “Pertaubatan Nasional”. Bulan Ramadhan dikenal sebagai syahrul maghfirah (bulan penuh dengan ampunan) dan di bulan ini pintu-pintu surga dan taubat hamba di buka selebar-lebarnya oleh Allah SWT. Di bulan ini di”sunnah”kan beristighfar dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, khususnya kepada para pemimpin negeri ini, dengan penuh rendah hati mengakui segala kesalahan dan kehilafan serta berharap dengan penuh ikhlas agar mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Negeri ini sudah “identik” dengan bencana dan manusia tak kuasa untuk menghadapinya. Memang, tak ada manusia yang bisa menolak bencana. Namun, bencana sangat mungkin merupakan sebuah “peringatan keras” bagi kita karena bisa jadi semua bencana tersebut adalah bentuk kelalaian kita sebagai seorang hamba kepada sang Khaliq nya, Allah SWT. Karena itu, disamping usaha dan upaya duniawiyah untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan kompleks bangsa ini, usaha dan upaya yang sifatnya ruhiah dan spiritual, yakni dengan mendekatkan diri kita kepada Yang Kuasa Pemilik langit dan bumi jauh lebih penting dan harus menjadi bagian “Solusi yang tidak terpisahkan”
April 23rd, 2009 at 8:38 pm
apakah ada hubungannya antara bencana dengan ama dan kaya dengan dosa lalu bagaimana dengan dosa namrudz dan kekayaannya juga bagaimana amal ayyub as dengan penyakitnya
maaf ni pa ustadz cuma mau nanya kok
April 23rd, 2009 at 8:48 pm
siap siap untuk pilpres ada tips nya lho,…..
April 23rd, 2009 at 8:53 pm
halo bro tipsnya bagus banget ada kisah bagus nich
April 23rd, 2009 at 9:05 pm
HI Hi… I am visiting again, and lways visiting to you because you’re the best blogger